Ritual ngeteh bagi saya masih menjadi hal yang sakral. Hal ini karena bukan saya memang dari awal suka teh, tapi lebih kepada meringankan keluhan. Saya sering sakit kepala jika pagi sebelum aktivitas tidak ngeteh dulu. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, hal demikian saya rasakan beberapa bulan terakhir ini. Mungkin karena kurang olahraga dan bergerak, atau mungkin karena faktor lain. Jelasnya, hal itu yang membuat kebiasaan baru bagi keseharian saya saat ini. Kini teh menjadi minuman utama selain air putih, serta menjadi bahan basa-basi ketika bertandang ke rumah orang dan ditawari ingin minum apa. Bagi saya, saat ini teh bisa menggambarkan imege seseorang. orang akan menganggap bahwa seseorang yang suka teh mempunyai kepribadian yang lebih lembut, lebih toleran dan gampang di bodohi. ketimbang kopi misalnya, yang cenderung lebih keras, dan kuat dan berpendirian. Begitu juga orang melihat saya saat ini, mungkin adalah orang yang lembut, dan juga gampang dibodohi. Hehe. Padahal...
Menjadi seorang penulis merupakan sebuah pilihan, seperti halnya Gol a gong, penulis buku ini yang menjadikan menulis sebagai jalan hidupnya, bermodal kesungguhan dan kerja keras, sampai Ia menjadi seperti sekarang ini. sudah sekitar 70-an buku yang ia tulis, dan diantaranya buku ini. ketika ingin memulai menulis, masalah mendasar yang biasa dialami yaitu bagaimana cara mencari ide, dan menuangkannya menjadi sebuah tulisan, hal tersebut menjadi semakin sulit ketika kita malas untuk mulai menulis. Buku ini akan membantu bagaimana cara mengatasi hal mendasar tersebut. dalam bentuk pengalaman-pengalaman gol a gong dalam proses menjadi seorang penulis sampai seperti sekarang ini. dibawakan dengan bahasa yang santai dan enak di baca, menjadikanya mudah dipahami. Sangat cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi penulis, karna buku ini dapat memotifasi agar dapat memulai menulis, dan bahwa menulis itu mudah dan mengasyikkan. ...
Semua sudah tau tante, di balik retorika bahasa dan kata-katamu itu ada hal besar yang ingin kau capai. Hal yang sudah dari dulu ingin sekali kau raih, tapi apa daya, kau tidak pernah bisa merebutnya dari kami. Kalau tidak begitu, mana mungkin kau mau duduk bersama kami. Kau sudah terlalu jauh dengan kami, bukan hanya soal jarak, tapi juga level. dan kami yakin sebenarnya bukan suatu hal yang mudah bagimu untuk meluangkan waktu bersama kami, tapi kau benar-benar meniatkan untuk ini. Sudahlah tante, tidak usah lah kau mengelak dengan dalih "untuk kebaikan bersama". Kami semua sudah tau maksud dan tujuanmu dengan semua ini. Kami juga tau tatapan rendahmu terhadap kami. Sampai-sampai kau mau mengerjakan semuanya sendiri. Kau ragu dengan kemampuan kami. Kalau boleh jujur, sebenarnya kau bukan apa-apa kecuali sang perangkai kata ulung. Kau hanya pintar menyusun rangkaian diksi dan menjadikannya sebuah perkataan yang sanggup meyakinkan orang. Tapi itu saja, tidak lebih, mungki...
Komentar