Ritual ngeteh bagi saya masih menjadi hal yang sakral. Hal ini karena bukan saya memang dari awal suka teh, tapi lebih kepada meringankan keluhan. Saya sering sakit kepala jika pagi sebelum aktivitas tidak ngeteh dulu. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, hal demikian saya rasakan beberapa bulan terakhir ini. Mungkin karena kurang olahraga dan bergerak, atau mungkin karena faktor lain. Jelasnya, hal itu yang membuat kebiasaan baru bagi keseharian saya saat ini. Kini teh menjadi minuman utama selain air putih, serta menjadi bahan basa-basi ketika bertandang ke rumah orang dan ditawari ingin minum apa. Bagi saya, saat ini teh bisa menggambarkan imege seseorang. orang akan menganggap bahwa seseorang yang suka teh mempunyai kepribadian yang lebih lembut, lebih toleran dan gampang di bodohi. ketimbang kopi misalnya, yang cenderung lebih keras, dan kuat dan berpendirian. Begitu juga orang melihat saya saat ini, mungkin adalah orang yang lembut, dan juga gampang dibodohi. Hehe. Padahal...
Saya tidak habis pikir tempat seperti ini bisa memberi pelajaran berharga. Di bawah pohon belimbing ini saya mencoba memaknainya sebagai proses menyejarah. Di saat orang lain sibuk dengan hal-hal formalitas, masuk -keluar jelas, retorika belajar-mengajar, mengerjakan-mengkoresi uas, bimbingan-membimbing skripsi, dan yang lainnya, orang-orang di sini malah santai bermalas ria, seakan tanpa beban hidup. Di zaman sekarang, masih ada orang seperti ini, yang duduk berjam-jam tanpa melakukan hal apapun yang produktif. Persis hanya nongkrong dan sekali-sekali melakukan beberapa hal yang tidak berfaedah. Curhat, ngegame, ceng-cengan , memikirkan hal aneh, adalah contoh dari banyak hal tidak bermanfaat yang biasa dilakukan. Yang jelas apapun yang dilakukan di sini memang tidak ada manfaanya. Orang-orang di tempat ini, sering kali tidak mengontrol kata-kata. Apa saja diucapkan. Tidak peduli akhlak, adab, maupun sopan santun. Serendah-rendahnya perkataan ada semua di sini. Jika o...
Semua sudah tau tante, di balik retorika bahasa dan kata-katamu itu ada hal besar yang ingin kau capai. Hal yang sudah dari dulu ingin sekali kau raih, tapi apa daya, kau tidak pernah bisa merebutnya dari kami. Kalau tidak begitu, mana mungkin kau mau duduk bersama kami. Kau sudah terlalu jauh dengan kami, bukan hanya soal jarak, tapi juga level. dan kami yakin sebenarnya bukan suatu hal yang mudah bagimu untuk meluangkan waktu bersama kami, tapi kau benar-benar meniatkan untuk ini. Sudahlah tante, tidak usah lah kau mengelak dengan dalih "untuk kebaikan bersama". Kami semua sudah tau maksud dan tujuanmu dengan semua ini. Kami juga tau tatapan rendahmu terhadap kami. Sampai-sampai kau mau mengerjakan semuanya sendiri. Kau ragu dengan kemampuan kami. Kalau boleh jujur, sebenarnya kau bukan apa-apa kecuali sang perangkai kata ulung. Kau hanya pintar menyusun rangkaian diksi dan menjadikannya sebuah perkataan yang sanggup meyakinkan orang. Tapi itu saja, tidak lebih, mungki...
Komentar